"dijodohin??"
kata-kataku setelah membaca surat wasiat dari ayah ku.aku lesu,tiada daya saat ini.semua telah berubah dan kini semua orang memaksaku untuk menuruti semua wasiat ayahku termasuk melakukan sebuah perjodohan yang sejak kecil telah dilakukan. yang anehnya aku merasa belum pernah sama sekali bertemu dengan laki-laki yang akan menjadi suamiku.siapakah dia?baikkah dia?jahatkah dia?berimankah dia?. semua pertanyaan ku berkecamuk di otakku.HARUSKAH AKU MENURUTI SEMUANYA?.oh tuhan,kenapa kau beri aku takdir seperti ini,,.?inikah jalan hidupku? ini seperti mimpi buruk.aku anak satu-satunya dikeluargaku.aku cucu perempuan satu-satunya dikeluarga besar ku.hari ini kami akan mengadakan pertemuan keluarga.semuanya telah di persiapkan.pihak keluarga kami yang akan pergi ke kediaman keluarga laki-laki yang tak ku kenal yang orang-orang sebut sebagai calon suami ku.saat tiba di rumah kediaman keluarga sebut saja calon suamiku,aku tercengang.jalan masuk menuju rumahnya saja ada 1km dari gerbang rumahnya.kalian bayangkan saja.dan gak cuma itu aja,jumlah pelayannya yang berdiri di samping jalan kaya' taburan bunga,bannyak banget.saat bener-bener sampe depan rumahnya malah lebih banyak lagi,, kaya kumpulan semut lagi abis diusir orang pake minyak tanah.
"selamat datang"ucap semua pelayan
wanita yang berdiri di sebelah kanan ku .mereka semua menggunakan
seragam layaknya pegawai hotel
" silakan masuk"ucap semua pelayan laki-laki yang berdiri di sebelah kiri ku.
hmm,aku
canggung.tapi kulihat wajah orang tuaku seperti biasa saja di
perlakukan seperti ini seperti memang sudah "langganan"datang kesini.ada
salah satu pelayan wanita yang mengantar kami masuk kedalam.
seorang pria menggunakan kemeja warna biru muda lengkap dengan dasi dan membawa jas di sebelah kanan.
"ya ampun, perfect bangett"ucapku tiba-tiba yang menggagetkan semua
orang. dan akhirnya disusul sebuah tertawaan yang
menggelegar."upps,keceplosan deh."
wajahku
seketika kurasakan memerah.laki-laki itu duduk disampingku.ku
perhatikan wajahnya.sepertinya aku ingat seseorang.aku berusaha
mengingat lagi.
"elo,mirip deh
sama frianza,temen kecil gue.ucapku ketika acara pertemuan keluarga
secara resmi usai pada CALON SUAMIKU di sebuah taman belakang rumahnya.
dia tersenyum kecil padaku lalu memandangiku. pengen pingsan rasanya.
tak lama dari itu dia memegang kedua tanganku.nah,mulai muyeng-muyeng kepala gue.
"itu nama panggilan gue waktu masih kecil,elotau gak kepanjangan dari frianza?" ucap calon suamiku
aku menggeleng.
"FRIscha
Ai eNdivka . elo tau kan maksudnya??"ucapnya seraya lebih mendekat lagi
satulangkah dan masih tetap memegang erat tanganku.
aku menggeleng lagi.
"ya,ampun.masih aja ya bodohnya"
"ih,apa-apaan
sih ngatain gue bodoh"ucapku agak meninggi dan mencoba melepaskan
tanganku dari genggamannya.tapi tak bisa, dia menggenggam erat tangan
ku.
"abisnya,nama sendiri nyampe lupa. frischa putri amelia renata.sedangkan nama gue endivka putra anggara."beberapa
bulan ini entah mengapa aku menjadi lupa akan rasa tertekan yang
awalnya kurasakan saat pertamakali tau bahwa aku akan dijodohkan.aku
juga tinggal di rumah endivka sekarang.ini juga karena kedua orang tua
endiv yang memaksaku untuk tinggal di sana.aku di perlakukan seperti
anak kecil,makan,minum,tidur,handuk,pakaian. pokoknya semuanya disiapkan
oleh pelayan.aku agak merasa terganggu sebenarnya apalagi saat
mengobrol dengan endiv pun selalu di kawal.intinya GAK BEBAS. tapi kata
endiv "elo harus terbiasa,elo kan calon istri gue"
dikit aja kata-katanya udah buat gue pengen melayang.hahaha.
kami
semakin dekat dan semakin dekat.kami serig mengenang masa-masa kecil
kami berdua yang tak bisa di lupakan.apalagi saat aku terjatuh dari
sepeda saat bermain di bukit belakang rumahku.
"frianza,ati-ati..gue takut."ucapku sembil menutup kedua mataku
"tenang aja,pegangan di pundak gue aja.seru tau'.."ucapnya masih terus mengemudikan sepeda gunungnya
"hmm,awa kalo gue ja....."
"daaaarrrrhggg"
kami berdua jatuh dari sepeda karena menabrak batu besar di tengah jalan di bukit itu.
"frian...sakittt"ucapku seraya mengelus siku tangan kiri ku
hening.tak ada suara
"frian,,.!"ucapku sambil mendekatinya yang tergeletak tak jauh dari ku.
"frian!frian!"ucapku lagi.masih tak ada respon. aku menampar wajahnya,tapi masih tak ada respon. aku cemas.
lalu
aku melepaskan kaos kaki miliknya dan meletakkannya di hidungnya, tak
lama dari itu barulah dia sadar. kemudian memarahiku karena meletakkan
kaos kaki di wajahnya.
"abisnya,aku cemas... elo gak bangun-bangun.lagian lemah banget sih jadi cowok"
kejadian endivka pingsan pun
terulang kembali,cuma bedanya kami berada di taman rumahnya. aneh dan
anehnya semua pelayannya tak mau membantuku untuk menyadarkannya.aku
makin bingung.dia tak sedang memakai kaos kaki.akupun tidak. aku
memangku kepalanya . aku hampir menangis gara-gara dia tak kunjung
sadarkan diri.sudahh kulakukan segala upaya untuk membuat sadar orang
yang sedang pingsan yang ku pelajari saat masih SMA dulu.
"endiv,sadar
donk,,. elo bikin gue pengen nangis nih.. ayolah div.. sadar.kenapa
juga sih semua pelayan elo gak mau bantuin gue nyadarin elo.jahat bener
sih..."aku mulai tak kuasa menahan air mataku. air mataku tertetes di
wajah endiv dan tak lama dari itu dia membuka matanya. aku tersenyum
lagi.
"ih,kok gue nggak elo cium
sih. kan kalo di dongeng-dongeng kaya itu. kalo ada orang pingsan pasti
di cium untuk nyadarinnya." ucap endiv saat pertama kali membuka matanya
"nah,elo bohongin gue ya???ih,dasar.. jahat banget."
kepala endivka masih ku pangku. kami tersenyum lalu saling memandang.
"i love u calon istriku"ucap endiv sambil menyentuh pipiku sebelah kiri
aku tersenyum.
"lah,kok cuma senyum. kok gak di jawab sih??" endivka mengerutkan dahinya.
aku memencet hidungnya. endivka tersenyum padaku.
aku menunduk,mendekatkan wajahku padanya.perlahan aku mencium pipi kirinya.
"heii,apa-apaan kalian ciuman di taman kaya itu" ucap suara dari kejauhan. kami menoleh
"bunda"ucap kami berbarengan
terlihat kedua ibu-ibu di sana tertawa terbahak-bahak melihat kami
kami pun juga tersenyum karena tak sadar apa yang telah di lakukan.
0 komentar:
Posting Komentar