CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Rabu, 05 September 2012

MENUNGGUMU




Aku terus menunggu, menunggu dia putus dari pacarnya yang sekarang. Coba aku yang lebih dahulu bertemu dia, mungkin saat ini aku sedang berdua dengannya. Tapi nyatanya aku hanyalah seorang teman baginya, tak apalah dia menganggapku teman daripada tidak sama sekali. Suatu saat aku pasti mendapatkannya. Rera, itu nama seseorang yang telah membuatku jatuh cinta dan membuatku menunggu hingga saat ini. Dua tahun sudah aku mengenalnya dan selama itu aku juga menunggu dirinya putus dari pacarnya, setiap aku berdoa aku pasti mendoakan agar Rera segera putus dari pacarnya. Hal  yang tidak masuk akal jika aku bahagia saat seseorang yang aku cintai ternyata menyukai orang lain. Hati ini hancur, memang telah hancur ketika aku tau bahwa Rera telah memiliki kekasih.
Saat-saat bersamanya adalah hal yang paling aku suka dan hal yang paling aku tunggu. Aku memang pengemis.. ya, pengemis cinta. Segala hal telah aku lakukan agar dia mencintaiku tapi sampai sekarang belum ada balasan apapun dari dia. Aku tau ini perasaan yang egois, tapi inilah rasa yang timbul dengan sendirinya. Aku sakit, sakit hati bila melihatnya tersenyum bukan karena aku tapi tersenyum karena orang lain. Selama ini aku hanya bisa memperhatikan Rera dari jauh saja, aku bahkan terkadang seperti seorang penjahat yang mengincar korbannya. Cintalah yang membuatku gila seperti ini. Mencintai tanpa dicintai seperti ini sangatlah menyakitkan.
Tak tau sampai kapan aku akan terus  menunggunya, mungkin sampai nanti. Sampai aku lelah menunggu. Aku sangat ingin memilikinya, sampai-sampai aku harus mengabaikan perasaan beberapa gadis yang mengungkapkan cinta padaku. Awalnya aku berpikir kalau Rera tak jauh berbeda dengan gadis lain yang mudah aku dapatkan cintanya. Aku adalah mahasiswa teladan dan seorang kapten club basket di kampus, itu yang membuatku populer diantara kalangan para gadis. Bukannya aku menyombongkan diri,tapi itulah yang sering aku dengar.
Hari minggu yang cerah, aku membuka jendela dan mendapati wajahku diterpa cahaya matahari pagi yang lembut. Aku malas untuk latihan basket di kampus hari ini. Semalam aku begadang sampai subuh main game di warnet di depan rumahku. Aku menggeliat dan menguap lebar-lebar. Aku letih, aku mulai letih menunggu Rera yang tak jelas sampai kapan harus menunggunya. Pikiranku selalu terpusat pada dirinya, sedang apa dia sekarang? Dengan siapa? Tersenyum kah dia hari ini?. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu berkecamuk di otakku. Aku mengguyur kepalaku, ingin melupakan semua hal tentang Rera.
Ketika aku sedang bermain basket di samping rumahku, Rera datang dengan air mata yang terus mengalir. Aku bingung apa yang sebenarnya terjadi, dia serta-merta menempelkan kepalanya didadaku dan terus menangis tanpa berkata apapun. Keringatku makin bercucuran bukan akibat bermain basket, tetapi karena aku gugup.
“kamu kenapa Ra?” tanyaku sambil mengelus kepalanya.
Suara tangis Rera makin menjadi.

                                                                   

Aku dapat menghirup udara segar sekarang, aku menghela napas dan memejamkan mata sesaat. Mungkin ini adalah jawaban dari doa yang selama ini aku panjatkan. Rera putus dari pacarnya. Aku menggunakan kesempatan ini untuk semakin mendekatinya. Aku tak peduli jika aku hanyalah pelampiasan baginya. Yang aku pikirkan hanyalah bisa memilikinya dan menjaganya dari sesuatu yang dapat membuatnya meneteskan air mata lagi.
“ Ra, sebelumnya aku mau  minta maaf. Tapi aku telah menyukaimu sejak aku bertemu denganmu di Laboratorium bahasa dua tahun yang lalu. “
Gadis disampingku menoleh. Ia berhenti membaca novel yang baru saja ku berikan.
“ Aku udah tau kok.”
Apa? Jadi selama ini dia tau perasaan ku. Aku sungguh kaget mendengar jawabannya, ada perasaan malu tapi sudah lah. Aku memintanya untuk menjadikan ku sebagai pacarnya. Dia tersenyum lalu meng-iyakan permintaanku. Saking senangnya, aku berteriak kegirangan seperti orang gila saat itu.
“ Ntar sore jalan yuk” ajakku pada Rera yang tengah menyeruput jus mangga kesukaannya.
“ ogah ah, lagi males”
Aku terdiam,memandangnya.
“ yah,bentar aja kok. Ya ya ya, mau ya?”
“ Jalan kemana? Ke dapur, ke WC atau ke TPA? hahaha”
“ ihh, dasar!” dengusku. “ ke pantai aja, aku lagi pengen kesana, mau gak?”
“Ooo... ke pantai,” ulang Rera. “ ogah ah, gak asik kesana, lagian aku bosan kepantai mulu. Aku juga udah ada janji sama Sinta mau ke mall.”
Aku menghela napas.
“ya udah kalo gitu,” suaraku melunak. “ tapi.. lain kali mau ya.”
Rera mengangguk.
“iya, tapi lain kali aja jangan sekarang.”
Sudah dua bulan aku menjadi pacar Rera, aku sungguh senang. Tapi aku tak tau dia merasa senang atau tidak. Faktanya, dia seperti tidak nyaman saat bersama ku. Aku selalu mencoba mengerti atas sikapnya yang seperti itu, mungkin karena dia belum bisa melupakan Rino,mantan pacarnya itu. tapi lama kelamaan aku makin tak tahan juga, aku tau posisiku hanyalah sebagai pelampiasannya saja yang tak berarti apa-apa dihatinya. Mungkin aku hanya memiliki raganya saja tetapi hati dan jiwanya tidak akan pernah ku miliki.
Rera memiliki sifat yang egois dan tidak pernah mau mendengarkan kata dari orang lain, aku selalu berupaya mengerti dan mengalah. Semua masalah yang ada, akulah yang selalu mengalah dan mengucapkan kata maaf. Seolah semua yang terjadi adalah salahku. Aku menghilang selama dua hari untuk mendinginkan otakku yang mungkin sebentar lagi akan meledak. Kata-kata “putus” selalu berputar-putar dikepalaku.
Tuhan, aku tak tau apa yang terjadi dengan perasaan ku sekarang. Aku merasa bosan dengan sikap Rera dan merasa bosan menjadi kekasihnya. Padahal aku telah lama ingin bersamanya, tetapi kenapa saat aku telah memilikinya aku menjadi seperti ini. Apa yang membuatku penasaran padanya dulu, kini telah aku ketahui. Ya, perasaanku kini telah hambar padanya.
Hari ini aku mengajak bertemu Rera di kantin tempat biasa kami makan, awalnya aku ingin mengungkapkan kata “putus” padanya. Tapi, saat aku berjalan sampai di depan laboratorium bahasa aku melihat Rera menggandeng tangan Rino sambil tersenyum. Ya, senyum yang tak pernah aku dapatkan selama aku berpacaran dengannya. Aku tersenyum getir, menahan semua perasaan kesal ku. Sudahlah, mungkin ini memang takdirku. Aku merebahkan badanku di kasur dan menangis tertahan. Inilah akhir dari cintaku, cinta yang berlebihan. Ya, segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik.
Kupejamkan kedua mataku, mencoba melupakan segala sesuatu yang dapat membuatku merasa sedih. Aku telah memutuskan hubunganku dengan Rera demi kebahagiaannya, benar seperti pepatah yang sering aku dengar yaitu memang menyakitkan melihat seseorang yang kita cintai bahagia dengan orang lain tetapi lebih menyakitkan lagi ketika mengetahui orang yang kita cintai tidak merasa bahagia dengan kita. Sekarang, menyibukkan diri dengan kegiatan club basket dan wartawan kampus itulah hal yang bisa ku lakukan agar aku melupakan sakit hatiku.
*Cerita ini hanya fiksi saja  J

0 komentar:

Posting Komentar